BAGIAN 1
Di pinggiran hulu sungai Batang Asai, Sarolangun, Jambi, kehidupan Safri dan keluarganya berjalan dalam kepahitan yang tak berkesudahan. Setiap hari, Safri bangun sebelum matahari terbit, berjalan kaki jauh ke Kota Sarolangun untuk bekerja sebagai buruh kasar. Angkanya kecil, tak cukup untuk menutupi kebutuhan makan sehari-hari, apalagi untuk keperluan lain yang mendesak. Tubuhnya lelah, tulang-tulangnya terasa nyeri, namun hasilnya tetap tak sanggup mengubah nasib keluarga yang tinggal di rumah kayu sederhana itu. Malam itu, lampu minyak yang remang-remang menyinari wajah Safri dan Nur Izzah. Di samping mereka, tertidur pulas anak mereka, Sahri, yang masih kecil. Hati Safri terasa teriris melihat wajah anaknya yang kadang harus menahan lapar. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan suara bergetar kepada istrinya. "Izzah... aku sudah tak sanggup lagi," ucap Safri pelan, matanya berkaca-kaca. "Bekerja di sini sekeras apa pun, nasib kita tak berubah. Aku ingin perg...