BAGIAN 1
Di pinggiran hulu sungai Batang Asai, Sarolangun, Jambi, kehidupan Safri dan keluarganya berjalan dalam kepahitan yang tak berkesudahan. Setiap hari, Safri bangun sebelum matahari terbit, berjalan kaki jauh ke Kota Sarolangun untuk bekerja sebagai buruh kasar. Angkanya kecil, tak cukup untuk menutupi kebutuhan makan sehari-hari, apalagi untuk keperluan lain yang mendesak. Tubuhnya lelah, tulang-tulangnya terasa nyeri, namun hasilnya tetap tak sanggup mengubah nasib keluarga yang tinggal di rumah kayu sederhana itu.
Malam itu, lampu minyak yang remang-remang menyinari wajah Safri dan Nur Izzah. Di samping mereka, tertidur pulas anak mereka, Sahri, yang masih kecil. Hati Safri terasa teriris melihat wajah anaknya yang kadang harus menahan lapar. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan suara bergetar kepada istrinya.
"Izzah... aku sudah tak sanggup lagi," ucap Safri pelan, matanya berkaca-kaca. "Bekerja di sini sekeras apa pun, nasib kita tak berubah. Aku ingin pergi merantau, ke Malaysia. Di sana kabarnya ada banyak pekerjaan, meski aku tahu harus pergi secara tidak sah, sebagai imigran gelap. Tapi aku berjanji, demi kalian, aku akan bekerja keras agar kita bisa hidup layak."
Air mata langsung meleleh di pipi Nur Izzah. Ia memegang tangan suaminya erat-erat, hatinya penuh rasa takut dan sedih. Ia tahu betapa berat bahu suaminya, namun melepaskan Safri pergi ke negeri orang, tanpa dokumen resmi, penuh bahaya dan ketidakpastian, rasanya seperti membelah hatinya menjadi dua.
"Abang... kenapa harus begini?" isaknya pelan. "Jalan itu penuh risiko, bisa ditangkap, bisa tersesat, atau apa pun yang buruk bisa terjadi. Aku takut sekali..."
Safri mengusap air mata istrinya, lalu menatap wajah anaknya yang tidur damai. "Aku tahu risikonya besar, Izzah. Tapi kalau tetap di sini, kita hanya akan terus hidup dalam kekurangan. Demi Sahri, demi masa depan kita, aku harus berani mencoba. Izinkan aku pergi ya... nanti kalau sudah punya cukup uang, aku akan pulang atau mengajak kalian menyusul."
Hati Nur Izzah hancur, namun ia mengerti beban yang dipikul suaminya. Di sela-sela isak tangisnya, ia pun mengangguk, melepaskan tangan suaminya dengan berat hati. "Pergilah, Abang... tapi berjanjilah untuk selalu berhati-hati dan pulang kembali. Kami akan selalu menunggu dan mendoakanmu."
Dengan tekad yang kuat namun hati yang sedih, Safri pun bersiap berangkat. Di pagi yang dingin, ia mencium kening istrinya dan anaknya yang masih tidur, lalu berjalan pergi menjauhi Batang Asai. Di matanya masih tersisa jejak air mata Nur Izzah, dan di dadanya tersimpan harapan besar: meski harus menjadi imigran gelap di negeri orang, ia akan berjuang sekuat tenaga agar suatu hari nanti, ia bisa pulang membawa perubahan nasib yang lebih baik bagi keluarga yang sangat dicintainya.
Langkah kakinya menjauh, membawa serta doa dan rindu, menuju perjalanan yang penuh bahaya, namun diharapkan menjadi jalan keluar dari penderitaan hidup yang selama ini mereka rasakan.
Komentar
Posting Komentar